Bacterial Pneumonia

Infeksi oportunistik

Bacterial pneumonia adalah masalah yang sering di temukan pada orang dengan HIV positive, baik pada mereka dengan jumlah CD4 yang tinggi atau yang sudah memberikan respon yang baik terhadap pengobatan ARV. Pada sebuah penelitian yang cukup besar dilakukan, didapati pada pasien HIV positif usia dewasa lebih mudah terinfeksi bacterial pneumonia dibandingkan dengan dengan yang HIV negative – meskipun demikian insiden bacterial pneumonia sudah turun secara drastis sejak diperkenalkan pengobatan HIV dengan kombinasi antiretroviral (ARV) beberapa tahun terakhir.

Bacterial pneumonia dan infeksi saluran nafas atas lainnya yang tidak berbahaya bisa disebabkan oleh berbagai macam bakteri. Streptococcus pneumoniae merupakan bakteri yang paling sering menjadi penyebabnya diikuti oleh Haemophilus Influenzae, Pseudomonas Aeruginosa, dan Staphylococcus Aureus. Pada kasus yang jarang ditemukan adalah disebabkan oleh Legionella Pneumophila, Mycoplasma Pneumoniae, dan Chlamydia Pneumoniae.

Bukan hanya orang dengan HIV positive gampang terinfeksi bacterial pneumonia tetapi mereka juga rentan terhadap infeksi pneumonia yang berulang. Pada kasus dengan jumlah CD4 kurang dari 100, dan infeksi bakterinya sudah menyebar selain dari hanya di paru paru saja, maka resiko kematian yang disebabkan oleh bacterial pneumonia menjadi lebih besar.

Orang HIV positive dan juga merokok, menggunakan narkotika jenis cocaine atau narkotika suntik atau mengalami masalah ketergantungan dengan alkohol atau infeksi di daerah hati maka akan lebih mudah terinfeksi bacterial pneumonia dibandigkan dengan orang dengan HIV positive yang tidak disertai dengan masalah diatas.

Apa menjadi gejala dan bagaiman mendiagnosanya?

Gejala yang ditimbulkan pada bacterial pneumonia antara lain dingin, mengingil dan nyeri dada. Panas badan, pernafasan cepat, detak jantung meningkat dan terdengar suara nafas wheezing dengan bantuan stetoskop merupakan gejala dari bacterial pneumonia.

Untuk mendiagnosa seseorang terinfeksi bacterial pneumonia sangat tergantung gambaran dari rontgen dada, blood tests (khususnya mencari ada tidaknya infeksi bakteri dan menghitung jumlah sel darah putih) dan melaukan pemeriksaan dahak/sputum.

Karena Pneumocystis pneumonia (PCP) merupakan penyebab dari pneumonia, khususnya pada orang dengan HIV positive yang kekebalan tubuhnya sangat rendah, maka tes yang lebih bagus lagi dari sputum perlu dilakukan. Karena bacterial pneumonia dan pneumocystis pneumonia memerlukan pengobatan yang berbeda.

Bagaimana pengobatannya?

Bacterial pneumonia diobati dengan antibiotika. Antibiotika yang digunakan akan menyesuaikan dengan bakteri penyebabnya. Silahkan berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Pneumonia biasanya memerlukan perawatan di rumah sakit dimana diperlukan oksigen dan obat obatan lain yang membuat pasien menjadi lebih nyaman.

Pasien akan merasa nyaman setelah 2 atau 3 hari setelah pengobatan diberikan. Meskipun demikian pengobatan yang dilakukan harus sampai tuntas, untuk memastikan infeksi sudah terkontrol dan mencegah bakteri penyebab menjadi resisten dengan obat yang digunakan.

Bagaimana mencegahnya?

Hal terbaik yang harus dilakukan adalah menjaga kesehatan kamu dengan menjaga sistem kekebalan tubuh kamu, gunakan pengoobatan HIV ARV segera jika kamu HIV positif merupakan cara terbaik untuk menghindari kamu agar tidak terkena bacterial pneumonia.

You might also like