Resiko penularan HIV

2,548

HIV ditularkan melalui cairan tubuh berikut ini:

  •  Darah
  •  Cairan sperma / Semen
  •  Ciran Pre-cum
  •  Cairan didaerah rektum
  •  Cairan daerah vagina
  •  Air susu ibu yang menyusui

Ada beberapa cara terjadi kontak dengan cairan yang disebut diatas:

  • Berhubungan seksual tidak mengganakan kondom dengan seseorang yang HIV positif. Yang dimaksud disini adalah kontak seksual yang tidak menggunakan kondom atau tanpa menggunakan pencegahan biomedical lainnya seperti treatment as prevention (TasP), pre-exposure prophylaxis (PEP) atau post-exposure prophylaxis (PrEP).
  • Menggunakan jarum suntik secara bersama sama, alat suntik yang sama dengan orang yang terinfeksi HIV.
  • Penularan dari ibu ke anak yang dikandungnya. Bayi yang dilahirkan dari ibu yang HIV positif bisa tertular sebelum atau selama proses persalinan berlangsung atau pada saat menyusui setelah melahirkan.
  • Penularan yang terjadi pada layanan kesehatan, petugas kesehatan bisa terinfeksi virus HIV, dikarenakan tertujuk jarum yang sudah terkontaminasi darah pasien yang HIV positif.
  • Penularan melalui donor darah atau produk yang dihasilkan dari tranfusi darah. tetapi penularan dengan cara ini sudah bisa dihindari dimana pemeriksaan HIV antibodi sudah sangat baik.

Bebrapa Mitos yang sering ada dimasyarakat yang TIDAK BENAR adanya:

  • Melalui gigitan nyamuk atau serangga atau binatang lainnya.
  • Menggunakan alat makan yang sama atau dari makanan yang dimasak dan disiapkan oleh orang dengan HIV positive.
  • Menggunakan toilet umum, telepon umum atau fasilitas umum lainnya atau menggunakan pakaian yang dipakai orang dengan HIV positive.
  • Menggunakan garpu, sendok, pisau atau gelas yang sama di restauran dengan orang yang HIV positif.
  • Bersentuhan, berpelukan atau berciuman dengan orang yang positive.
  • Satu sekolah, tempat ibadah, restauran atau pusat perbelanjaan dengan orang yang HIV positif.
  • HIV TIDAK menular melalui air liur atau ludah, air kencing, kotoran, muntahan atau keringat.

Penularan HIV melalui kontak seksual

Merupakan cara penularan HIV yang paling sering terjadi. Menurut data dari the Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sekitar 70 persen dari jumlah kasus infeksi HIV yang baru tahun 2014, adalah pada komunitas Laki laki yang berhubungan sex dengan laki laki lainnya (LSL). Istilah LSL penting untuk ditekankan karena kebanyakan dari laki laki yang berhubungan sex dengan laki laki lainnya tidak mau mengidentitaskan dirinya dengan Gay atau Biseksual. Penularan HIV melaui kontak seksual sekitar 23 persen dari kasus infeksi baru; pada kasus ini banyak juga pada wanita yang tertular virus dari laki laki. Pada pengguna narkotika dengan cara disuntik sekitar 7 persen dari kasus infeksi baru, meskipun 40 persennya adalah LSL, jadi tidak jelas apakah laki laki itu tertular melalui jarum suntik atau kontak seksual.

Berdasarkan data dari UNAIDS, LSL secara global terdapat 12 persen dari kasus infeksi baru di tahun 2015. Pekerja Sex sekitar 5 persen dari kasus infeksi baru : pengguna narkotika suntik sekitar 8 persen dari kasus baru.

Kenapa penularan HIV bisa terjadi melalui hubungan seksual adalah karena terjadi pertukaran cairan tubuh. Para ahli berpendapat bahwa HIV bisa ditularkan melalui darah, cairan sperma dan cairan vagina. Benar adanya HIV juga ditemukan pada air liur / ludah, air mata dan air kencing, tetapi jumlah virus dalam cairan ini sangatlah sedikit sekali konsentrasinya dan tidak ada satupun kasus yang dilaporkan oleh CDC tertular dari cairan ini.

Aktifitas seksual tertentu dan seberapa besar resikonya?

Penelitian menunjukan bahwa aktifitas seksual tertentu mempunyai resiko penulara HIV lebih besar dibandingkan dengan yang lainnya.

Hubungan seksual melalui vagina

Hubungan seksual pervaginam tidak menggunakan kondom merupakan cara penularan HIV yang paling banyak ditemukan diseluruh dunia. Merupakan cara penularan HIV yang paling banyak melalui hubungan seksual setelah anal sex.

Penelitian menunjukan hubungan antara laki laki ke perempuan sebagai penularan HIV selama proses hubungan seksual pervaginam dibandingkan penularan dari perempuan ke laki laki. Dengan kata lain laki laki yang HIV positif lebih mudah menularkan virus HIV ke perempuan yang HIV negatif melalui hubungan seksual pervagina dibandingkan dengan wanita yang HIV positif ke laki laki yang HIV negatif.

Ada beberapa alasan yang menjadi dasar pernyataan diatas. Pertama, Lebih banyak pria yang terinfeksi HIV dibandingkan wanita, artinya kemungkinan wanita berhubungan sex dengan laki laki yang positif dibandingkan dengan laki laki dengan wanita yang positif. Kedua yang lebih berarti, karena pada wanita permukaan jaringan yang tertutup mukosa sangatlah luas, meliputi daerah vagina dan cervix dan gampang untuk lecet dan mengandung banyak sel sel kekebalan tubuh yang merupakan target sel bagi HIV dibandingkan dengan pria. Sedangkan pada pria, HIV harus melalui luka lecet pada penis atau bagian dari mukosa saluran kencing pada penis.

Para peneliti menyarankan bahwa laki laki yang di sunat mempunyai resiko tinggi untuk ditularkan dam menularlkan HIV jika mereka sudah positif HIV. Dan perlu ditekankan disini untuk mereka yang sudah di sunat mereka masih punya resiko untuk ditularkan dan menularkan HIV.

Pada pria atau wanita yang terinfeksi infeksi menular seksual (IMS), seperti penyakit herpes atau syphilis, mereka lebih gampang menularkan HIV jika mereka positive atau ditularkan HIV jika mereka HIV negative.

Hubungan seksual melaui anal

Hubungan seksual melalui anal seks tanpa menggunakan kondom selalu diasosiasikan dengan resiko tinggi tertular atau menularkan HIV.

Sebagai pasangan yang pasif atau bottomnya atau yang menerima selama hubungan seksual tidak menggunakan kondom maka resiko kamu sangatlah tinggi untuk tertular HIV, dan pasangannya juga mempunyai resiko untuk tertular HIV. Alasannya utamanya adalah cairan sperma mengandung HIV masuk ke tubuh dan kontak dengan mukosa anus/rektum yang bisa menyerap HIV pada saat melakukan hubungan seksual secara anal. Dan resikonya tidak akan berkurang jika pasangannya atau topnya ejakulasi diluar buakan didalam anus. Penelitian juga menunjukan bahwa cairan pre-ejaculate (pre-cum) sudah mengandung HIV dalam konsentrasi tinggi dan bisa terjadi penularan pada saat berhubungan seksual secara anal.

Sebagai pasangan yang aktif atau sebagai Top nya mempunyai resiko lebih rendah, tetapi HIV masih bisa masuk ke tubuh kamu melalui luka yang kasat mata atau luka yang tidak tampak oleh mata pada penis kamu atau melalui mukosa pada saluran kencing, ujung penis atau melalui mukosa pada bagian yang tidak disunat/foreskin.

Penelitian menunjukan bahwa hubungan sex secara anal sebagai pasangan yang top nya rata rata mempunyai resiko 4 sampai 14 kali lebih tidak beresiko dibandingkan dengan pasangan yang receptive / bottomnya pada saat berhubungan anal sex tanpa menggunakan kondom.

Penis – Oral Sex

Resiko penularan penis – oral sex masih membinggungkan para ahli untuk menentukan besarnya  resiko penularan HIV dan masih banyak pertanyaan yang perlu dijawab. Tetapi para ahli sepakat bahwa resiko HIV untuk penis – oral fellatio (blow jobs) tidak cukup efisien sebagai rute penularan HIV.

Aktifitas seksual fellatio yang tidak menggunakan kondom akan memberikan kesempatan cairan tubuh untuk masuk ke dalam dan kontak dengan jaringan mukosa atau luka, lecet atau luka kecil yang tidak kasat mata yang ada di kulit ke orang lain, yang secara teori mempunyai resiko untuk tertular HIV. artinya penularan infeksi dari satu orang ke orang lain masih mungkin terjadi. Tapi pada kenyataannya hal ini hal ini jarang terjadi, ada beberapa kasus yang dilaporkan. Kasus ini ditemukan pada LSL, dimana laki laki yang melakukan oral sex tanpa menggunakan kondom dengan laki laki lainnya yang positif HIV. Untuk penularan dari seorang perempuan yang melakukan oral sex terhadap laki laki yang HIV positif tanpa menggunakan kondom belum dilaporkan.Tidak pernah dilaporkan satupun terjadi penularan HIV terhadap laki laki yang dihisap penisnya pada saat oral sex, baik pada LSL atau heterosexuals.

Oral – Vaginal Sex

Seperti halnya fellatio, aktifitas ini (cunnilingus) juga dikategorikan dengan resiko yang kecil. Ada satu kasus yang dilaporkan pada perempuan ke perempuan yang tertular HIV melalui cunnilingus dan kasus lainnya perempuan ke laki laki terjadi penularan HIV melalui cunnilingus. Kedua kasus ini melibatkan penularan dari penerima oral sex ke pasangan yang memberikan oral sex. Tidak ada yang dilaporkan kasus dari pasangan yang mengoral ke yang di oral.

Oral – Anal Sex

Oral – anal sex sering dikenal dengan analingus. Analingus, atau rimming, bukan sebagai faktor tersendiri untuk penularan HIV tetapi merupakan rute penularan untuk hepatitis A dandan juga infeksi parasit lainnya seperti giardiasis dan amebiasis.

Digital – Anal atau Digital – Vaginal Sex

Digital – anal atau digital – vaginal sex merupakan istilah medis untuk fingering atau merangsang daerah anus atau vagina dengan jari. Secara teori mungkin saja terjadi pada orang yang ada luka di daerah jarinya jika kontak dengan darah atau cairan dari anus/rektum atau vagina, tidak ada laporan tentang seseorang yang tertular karena melakukan aktifitas seksual ini.

You might also like