KESEHATAN SEKSUAL

Tolong! Mata saya terciprat cairan sperma. Apa yang harus saya lakukan?

 

Mungkin semalam rada rada out of control.

Tiba tiba saja terjadi tanpa disangka, sekarang kamu mungkin merasa khawatir karena cairan sperma pasangan kamu mengenai wajah kamu dan tanpa sengaja mengenai matamu. Ada cairan sperma yang mengenai mata kamu dan kamu khawatir apakah ada resiko untuk tertular HIV atau penyakit menular seksual (IMS). Hal ini sering terjadi, berikut hal yang harus kamu ketahui. 

Cuci muka dan mata kamu
Kami rasa kamu sudah melakukan hal ini. Jika belum – cucilah segera! Semen atau cairan sperma, seperti bahan lainnya yang bukan berasal dari mata tentu bisa menimbulkan iritasi. Cuci atau flush mata kamu dengan air hangat hangat kuku. Jika kamu menggunakan kontak lens, bukalah secara perlahan lahan dan jangan dipasang lagi setidaknya sampai mata kamu nampak normal atau terasa normal. Pastikan kamu bersihkan kontak lens kamu dengan cairan desinfekstannya sebelum kamu pasang kembali. 

Tidak perlu takut dengan HIV!
Resiko kamu terinfeksi HIV melalui cairan sperma adalah sangat sangat rendah sekali. Secara teori memungkinkan seseorang tertular HIV melalui membran mukosa, termasuk mukosa mata. Tetapi secara kenyataan itu tidak mungkin terjadi. 

Sejak tahun  1990, penularan HIV melalui mukosa mata diduga bisa terjadi terutama pada pekerjaan yang beresiko seperti petugas laboratorium dan perawat. Tetapi sampai sekarang tidak pernah dilaporkan kasus orang tertular HIV karena terpecik cairan tubuh ke mata yang dimuat pada jurnal kedokteran yang terkenal.

Penularan HIV melalui mata – apa yang kita ketahui dari penelitian yang sudah ada.

Para peneliti mencoba membuat estimasi resiko seseorang melalui mata atau lapisan mukosa lainnya seperti (mukosa di hidung dan mulut). Sangat sulit dilakukan, karena jumlah kasusnya sangat kecil sekali. Beberapa penelitian sudah dilakukan untuk menjawab pertanyaan ini dengan meneliti beberapa kasus resiko penularan HIV karena resiko pekerjaan (dalam hal ini pada kasus dimana dokter, perawat, peneliti dan lainnya yang terpapar cairan tubuh yang terkontaminasi HIV dalam pekerjaan).

Sebuah artikel yang direview oleh Evans and colleagues, yang dipublikasikan tahun 1999, resiko tertular HIV melalui mukosa adalah sebesar  0.03% (1 in 2910) – (dengan kata lain, resiko penularan HIV melalui mukosa mulut dan hidung) kita bisa menginterpretasikan bahwa sebesar 99.97% apabila kamu terpapar cairan tubuh yang terinfeksi HIV melalui lapisan mukosa, kamu TIDAK akan terinfeksi HIV. Dan estimasi ini berdasarkan cairan darah, bukan cairan sperma, yang kemungkinan Resikonya akan lebih rendah lagi. 

Penelitian lainnya dilakukan oleh Henderson and colleagues, estimasi orang terpapar  darah yang terkontaminasi HIV pada pekerjaan, dengan tertusuk jarum atau rute lain melalui kulit, adalah sekitar  0.3% resiko tertular HIV per exposure. Resiko yang berhubungan dengan membran mukosa menurut penulis, secara substansial sangatlah kecil sekali. 

Harus diingatkan bahwa resiko terinfeksi HIV melalui mata sangatlah rendah (mendekati nol) terlebih lagi sumbernya berasal dari HIV positif yang mendapatkan pengobatan. Melalui penelitian dengan jumlah sampel yang besar dinyatakan bahwa seseorang yang HIV positif dan bisa menjaga jumlah virusnya menjadi tidak terdeteksi kemungkinan tidak menularkan ke orang lain. 

Bagaimana dengan chlamydia dan gonorrhea?

Bisa saja kamu terinfeksi chlamydia atau gonorrhea didaerah mata (dikenal dengan  ocular chlamydia atau ocular gonorrhea). Sekali lagi, kemungkinan besar bisa terjadi.

Ocular chlamydia atau gonorrhea berasal dari infeksi dari alat kelamin, baik dari alat kelamin kamu sendiri atau dari pasangan kamu. Itu artinya jika pasangan kamu ada infeksi chlamydia di saluran kencingnya/urethranya, dia menyentuh penisnya dengan tangannya kemudian dia menyentuh mata kamu, kemungkinan kamu bisa ditularkan chlamydia ke mata kamu. Sama hal nya bisa terjadi pada infeksi  gonorrhea. Kebanyakan data kejadian kasus prevalensi ocular chlamydia berasal dari bayi yang ditularkan melalui persalinan. Belum ada laporan dari CDC tentang kasus prevalensi  ocular chlamydial infections pada orang dewasa – ini dikarenakan kasusnya jarang terjadi. 

Secara teori, cairan sperma yang mengandung bakteri chlamydia bisa menyebabkan infeksi chlamydia di mata, atau begitu juga dengan bakteri gonorrhea. 

Sebelum kamu mencari gejala yang akan ditimbulkan, yang terpenting adalah tidak boleh panik. Pada kasus “mata merah” (viral, bacterial atau allergic conjunctivitis) lebih sering terjadi dan memberikan gejala yang sama. Jika kamu khawatir, ini beberapa gejala yang bisa tampak. 

Gejala dan pengobatan ocular gonorrhea
Meskipun sangat jarang kasusnya, tapi kasus infeksi gonorrhea pada mata merupakan kasus kegawatdaruratan, karena bisa menyebabkan kehilangan penglihatan. Gejala yang ditimbulkan termasuk mata merah, discharge/ada nanah dan inflamasi. Jika tidak segera diobati dengan segera, bisa menyebabkan ganggu pada penglihatan. Jadi penting sekali segera berobat ke dokter jika kamu mengalami gejalanya. Pengobatannya adalah tetes mata dengan tambahan antibiotic oral atau injeksi bahkan perlu dirawat di rumah sakit.

Gejala dan pengobatan ocular chlamydia
Gejala dari ocular chlamydia termasuk cairan lendir dari mata, kelopak mata bengkak, iritasi pada mata, terasa seperti sesuatu mengganjal dibangian mata kamu atau mata merah. Selalu diingat di pikiran kamu, gejala ini akan sama seperti kamu terpecik cairan sperma di mata kamu (terlepas dari ada tidaknya bakteri  chlamydia di cairan sperma itu). Ocular chlamydia bisa diobati dengan antibiotika. 

Kesimpulannya
Diskusi dengan petugas kesehatan kamu jika kamu masih merasa khawatir, atau jika kamu mempunyai iritasi mata yang kamu baru kamu dapati atau menetap beberapa hari setelah “big event”. Dan perlu diingat, selalu merupakan hal yang bijaksana jika kamu selalu memeriksakan status HIV kamu secara teratur (setiap tiga bulan sekali) jika kamu negatif dan selalu minum obat ARV kamu sesuai dengan petunjuk dokter, jika kamu positif HIV.

Artikel yang berhubungan

Back to top button
Close